Majalah Risalah dan LTN PBNU Adakan Diskusi Publik Urgensi Dakwah NU di Perkantoran

0
125
Nahdlatul Ulama perlu meningkatkan intensitas dakwah yang menyasar kepada masyarakat perkotaan. Hal itu mengingat demografi umat Islam di perkotaan terus meningkat, di samping karakternya yang relative berbeda dari masyarakat perdesaan juga membutuhkan strategi dakwah tertentu.
Demikian di antara poin utama diskusi bertema “Urgensi Dakwah di Masyarakat Perkotaan dan Perkantoran” yang digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) di Jakarta, Kamis (12/10) malam.
Hadir sebagai pembicara dalam diskusi yang rencananya digelar bulanan ini KH Maman Imanulhaq (Ketua LDNU), KH Asrorun Niam (Katib Syuriah PBNU), Ustadz Ali Sobirin (Wakil Ketua LTM NU), H Asrori Karni (Redaktur Senior Gatra), H Syamsul Huda (Ketua LAZISNU), dan Hadi Usmayadi (Ketua LTNNU).
Maman di hadapan forum memaparkan tentang fenomena gairah keagamaan masyarakat perkotaan yang mulai muncul sejak tahun 1980-an. NU sebagai organisasi besar mau tidak mau harus menyesuaikan dalam metode dakwah yang digunakan.
Menurutnya, NU saat ini mestinya tidak hanya berfokus pada masalah substansial, namun juga harus memperhatikan simbol-simbol keagamaan. Hal ini dikarenakan masyarakat perkotaan saat ini lebih berfokus pada penggunaan simbol agama tersebut.
“Jadi, dua hal itu yaitu memperhatikan simbol agama dan tetap menjaga substansi ajaran agama menjadi penting untuk diperhatikan,” ujar pria yang akrab disapa Kang Maman ini.
Sementara itu, Asrorun Niam mencoba untuk melihat permasalahan dakwah NU dari sisi yang lain. Menurutnya, NU mesti tidak lagi mengedepankan cara dakwah yang konfrontatif namun akan lebih baik jika NU melakukan sinergi pendampingan terhadap objek dakwah. Cara ini diyakini efektif dengan satu syarat yaitu dibutuhkan sikap yang istiqomah. Diharapkan dengan metode ini secara perlahan NU akan mewarnai kegiatan-kegiatan di sekitar objek dakwah.
Diskusi malam hari ini dimanfaatkan oleh Ketua LAZISNU, Syamsul Huda, untuk melakukan introspeksi bersama. Betapa NU sebenarnya telah tertinggal dengan organisasi lain dalam manajemen zakat dan shadaqah, apalagi di kalangan perkotaan dan perkantoran.
Ia memaparkan banyak fakta tentang hal ini. Namun demikian Syamsul optimis bahwa NU akan bisa menjadi lebih baik terutama dalam hal pengelolaan zakat yang profesional sebagai syarat menjangkau target masyarakat perkotaan dan perkantoran.
Sedangkan Ali Shobirin sebagai pembicara selanjutnya menjelaskan bahwa solusi dari permasalahan ini sebenarnya sederhana yaitu kembali ke masjid. Ia mengajak hadirin secara umum dan khususnya kepada pengurus NU agar kembali memakmurkan masjid. Selain itu, penulis buku “Teknologi Ruh” ini juga meminta kepada Nahdhiyin untuk lebih berani mengambil peran dalam kegiatan keagamaan.
Pemaparan terakhir disampaikan oleh Asrori Karni, redaksi senior majalah Gatra. Asrori menganalisis perkembangan dakwah perkotaan dari sejak orde baru hingga saat ini. Menurutnya, jika melihat dari perjalanan waktu, NU saat ini mengalami akselerasi yang besar. Terbukti dengan banyaknya nahdhiyin yang berkiprah di berbagai bidang, sehingga dalam konteks dakwah kepada masyarakat perkotaan dan perkantoran ini, optimis akan melakukan akselerasi dari ketertinggalan pada saat ini.
Sebelumnya, Ketua LTNNU yang bertindak sebagai pemantik diskusi sekaligus moderator membuka pemaparannya dengan menjelaskan berbagai data terkait dengan demografi masyarakat perkotaan.
Cak Usma, panggilan akrab Ketua LTN NU ini, juga menjelaskan tentang betapa pentingnya NU untuk memahami profil masyarakat perkotaan sehingga bisa tepat sasaran dalammenjalankan dakwah di perkotaan. Ia memaparkan tentang analisis SWOT terhadap tujuan dakwah NU ini.
Sumber: www.nu.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here