LTNNU Jepara: Kebenaran di Medsos Subyektif

0
96

Jepara, NU Online
Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Kabupaten Jepara mengingatkan kepada pegiat media sosial (medsos) agar lebih hati-hati. Pasalnya, kebenaran yang ada di medsos adalah kebenaran subyektif.

Hal tersebut dikatakan Wakil Sekretaris PC LTNNU Kabupaten Jepara M Abdullah Badri saat diskusi bareng anggota Majelis Taklim dan Shalawat Rijalul Ansor bertempat di Masjid Jami Al Muttaqin Desa Cepogo Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara, Jumat (12/10) siang.

“Kebenaran sekarang ini mengikuti keyakinan masing-masing. Sehingga kebenaran yang mulanya memiliki prinsip obyektivitas berubah menjadi subyektivitas,” tandasnya.

Hal itu sebut pria yang akrab disapa Kang Badri sebagaimana termaktub dalam ilmu filsafat disebut post truth (pasca kebenaran). Didampingi H. Noor Rois (Ketua PAC GP Ansor Kembang) dan sejumlah kiai yang hadir, dia menegaskan bahwa dalam algoritma (pemrogaman) facebook sama sekali tidak dikenal kebenaran.

“Yang ada like dan dislike. Suka maupun tidak suka,” tandas pria berambung gondrong itu. Sehingga hal itu lanjutnya sangat berbahaya.

“Kubu pak Jokowi tidak suka dengan kubu Pak Prabowo. Dan sebaliknya.” Begitu imbasnya, kata dia sebagai contoh di tahun politik ini.

Kegiatan diskusi di Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara Jawa Tengah diikuti puluhan anggota Ansor dan Banser.

Selain medsos sambung Abdullah Badri, tidak menyuarakan kebenaran, info di fb yang sering muncul sesuai kesenangan pemilik akun medsos tersebut. “Suka buka porno maka yang sering keluar yang porno-porno. Suka dengan ustad nanti yang sering muncul ya ustad-ustad.”

Dengan kondisi itu maka putra Kiai Badri ini menyentilnya dengan istilah post crut (pasca nge-crut). Dulu urainya, saat masih di era kertas orang sibuk baca koran, pembaca statusnya hanya konsumen.

“Namun sekarang di era digital pengguna fb sudah menjadi prosumen, ya produsen ya merangkap konsumen,” terang alumnus MA NU TBS Kudus itu.

Nah pada titik inilah subyektivitas berlaku karena pandangan pribadi dinilai sebagai kebenaran. “Kalo zaman dulu Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadits butuh waktu berbulan-bulan. Sekarang banyak personal-personal yang setiap hari ngeshare one day one hadits, yang begitu ya ada dan banyak,” prihatinnya.

Begitu juga kabar yang paling terbaru soal qiraah sab’ah yang dianggap sesat, jika disuruh menjelaskan dia meyakini tak bisa menjelaskan dengan ilmiah. “Orang gampang menyesatkan yang tak sesuai dengan pandangannya sesat, bidah, dan masuk neraka,” tegasnya.

Di zaman semakin derasnya arus informasi memang tidak bisa dicegah, Kang Badri mengajak Ansor dan Banser agar menguatkan barisan agar yang lain semeleh, menyerah. (Syaiful MustaqimMuiz).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here