Penerbitan Majalah Risalah NU Edisi 87

0
126

SPIRIT SATU NEGERI – HARI SANTRI 2018

Majalah Risalah NU edisi 87 bulan Oktober 2018 telah hadir dan menyapa masyarakat Indonesia. “Spirit Satu Negeri Hari Santri 2018” Ya inilah judul besar majalah kali ini. Mengapa kami membahas momentum bersejarah yakni peringatan Hari Santri Nusantara (HSN) 2018. Tidak lain dan bukan karena untuk mengingatkan sejarah manis kepada generasi santri selanjutnya, bahwa ada santri dan kiai hebat yang telah berjuang demi agama dan kemerdekaan Indonesia.

Nah, sudah saatnya para santri untuk bangkit dan maju, tidak minder untuk menggapai prestasi cemerlang demi mengharumkan pesantren, agama dan bangsa. Dimana PBNU telah mengintruksikan kepada seluruh jajaran pengurus di seluruh Indonesia dari mulai Pengurus Wilayah NU sampai Ranting NU untuk menggelar acara terkait peringatan hari sanri yang jatuh pada setiap tanggal 22 Oktober.

Selain peringatan hari santri, kami juga menyajikan tulisan tentang hasil rapat Pleno yang digelar PBNU. Diantara isinya adalah mundurnya Kiai Ma’ruf sebagai Rais Aam lantaran maju menjadi calon wakil presiden RI mendampingi Jokowi pada gelaran Pilpres 2019 mendatang.

Suasana mengharukan terjadi Sabtu, 22 Oktober lalu. Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin mengundurkan diri dari jabatan Rais Am Syuriah PBNU. Jabatan tertinggi di NU itu diemban kemudian oleh Pelaksana Tugas (Plt) KH. Miftachul Achyar yang sebelumnya menjabat wakil Rais Am.

Adegan itu kita saksikan ketika Kiai Ma’ruf Amin menyampaikan alasan pengunduran dirinya. Banyak orang terharu ketika menyaksikan Kiai Ma’ruf meninggalkan ruang sidang lantai 8 PBNU itu dan menyalami KH Miftachul Achyar. Kiai Miftach mencium tangan ulama yang jauh lebih senior itu. Semua orang tertunduk haru. Melepas jalan Kiai Ma’ruf sangatlah berat. Apalagi ia baru tiga tahun memegang jabatan tertinggi di jam’iyyah NU itu.

Kiai Ma’ruf harus meletakkan jabatan mulia itu karena ada tugas yang lebih besar. Dalam istilah KH Ma’ruf, ada lahan pengabdian yang lebih besar yang harus diembannya. Dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga NU, Kiai Ma’ruf harus mundur dari jabatan tertinggi di NU itu yang kemudian menduduki jabatan sebagai mustasyar, jabatan yang pernah disandangnya sebelumnya. Tugas Kiai Ma’ruf adalah menyatukan kembali kekuatan umat untuk tidak lagi ada kesan bahwa Islam vs Anti-Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here