Upaya NU Bojonegoro Tangkal Radikalisme Berbalut Agama di Medsos

0
226

Komitmen Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bojonegoro dalam ikut serta menangkal penyebaran radikalisme khususnya di dunia maya terus dilakukan. Apalagi realitas saat ini dunia maya khususnya media sosial sudah menjadi ladang empuk yang digunakan oleh paham-paham sesat dan radikal untuk mempropaganda serta menyebarkan pahamnya.

Ketua PCNU Kabupaten Bojonegoro H. Chalid Ubed menekankan pentingnya mengetahui cara menggunakan internet khususnya medsos dan cerdas dalam pemanfaatannya. Pasalnya, di era milenial saat ini masyarakat menghadapi fenomena disrupsi, dimana suatu hal bisa berubah secara total akibat kemajuan teknologi yakni internet.

“Maka kita sebagai generasi milenial juga harus tahu bagaimana cara memanfaatkannya,” terangnya saat bersama Internet Marketer Nahdlatul Ulama (IMNU) Bojonegoro menggelar halaqah bertajuk Membenamkan Radikalisme di Media Sosial, Selasa (25/12).

Pada acara yang berlangsung di kantor PCNU jalan A. Yani Bojonegoro, pria yang berprofesi sebagai dokter ini mengungkapkan bahwa halaqah ini juga sebagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada peserta yang terdiri dari para kader IPNU-IPPNU dari beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Bojonegoro dan yang lainnya tentang manfaat dan bahayanya media sosial.

Dalam halaqah tersebut, Winarto Eka Wahyudi, pemateri dari Koordinator Divisi Riset dan Data PW LTN NU Jawa Timur memaparkan tentang bagaimana strategi menulis di media sosial. Ia melihat usaha kelompok radikal dalam menyebarkan paham radikal melalui tulisan di media sosial saat ini sangat masif.

“Penting bagi generasi penerus NU untuk mempunyai kemampuan dalam menulis dan memanfaatkan media sosial untuk memberi kontra narasi,” jelasnya.

Sementara Hadi Susanto, Pemateri dari IMNU Pusat memaparkan tentang bagaimana pola kelompok radikal menyebarkan ideologinya. Ia juga memberikan gambaran kepada peserta diskusi tentang peran generasi muda dalam mencegah penyebaran paham radikal agar tidak semakin meluas.

Kelompok ini lanjut Hadi, mengemas isu yang disebarkan dengan sangat rapi, terkoordinir dan sering dibalut dengan bungkus agama. Sehingga masyarakat terutama pemuda, mudah terkecoh dan terprovokasi oleh isu yang disebarkan.

Oleh karena itu kewaspadaan khususnya para generasi muda sebagai generasi penerus harus terus ditingkatkan. Para pemuda juga harus aktif memberikan pencerahan kepada para pengguna media sosial lainnya baik lingkup keluarga maupun masyarakat agar tidak termakan hoaks, atau berita bohong. (M. Yazid/Muhammad Faizin).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here