LTNNU Jombang : Pesantren dan Madrasah Harus Punya Website

0
62

Jombang, NU Online
Pengurus Cabang (PC) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Jombang Jawa Timur bekerjasama dengan Madrasah Muallimin Muallimat Atas (MMA) 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas Jombang mengadakan diklat jurnalistik gratis untuk para siswa. Acara digelar di Auditorium MMA Bahrul Ulum digelar Senin (01/3) diikuti oleh puluhan santri dan siswa.

“Kita ingin setiap madrasah, pesantren, dan santri bisa aktif menulis kegiatan mereka dalam bentuk berita. Lalu diposting di website madrasah atau pesantren. Bisa juga lewat blog atau wordpress. Kalau belum punya, kita bantu buat. Tahun ini harus punya, untuk strategi dakwah,” kata M Choirurojikin, pemateri dari LTNNU Jombang.

Pria yang biasa disapa Oji ini menambahkan, saat ini media sosial masih dikuasai golongan ‘Minhum’. Kelompok tersebut saat ini sangat gencar menyudutkan NU lewat postingan dan tulisan yang provokatif.

Keengganan santri untuk mengusai media sosial membuat generasi muda dari kelompok ‘Minhum’ membanjiri medsos. Mereka aktif menulis kajian Islam versi mereka di Facebook, IG, Whatshap, Twitter, Blog, Website dan versi video di Youtube.

“Efeknya apa? setiap ada yang mengetik kata ‘cara berwudlu’ di Google maka yang muncul pada halaman pertama adalah website atau blogger dan akun medsos punyanya ‘Minhum’,” sesal Oji.

Dikatakan, LTN-NU Jombang membuat sebuah program khusus bernama ‘LTN sambang’. Selanjutnya, tim dari LTN-NU Jombang akan berkeliling ke madrasah, sekolah, pesantren, dan komunitas untuk memberikan materi jurnalistik plus sekaligus cara membuat blog dan website.

“Andai saja para santri mau meluangkan waktu untuk membagikan hasil kajiannya di blogger atau website maka tentu orang yang baru belajar Islam ini bisa memahami hukum Islam secara lengkap dan sejuk,” ungkap Oji.

Peserta diklat jurnalistik Zaky mengatakan sangat senang dengan program LTN-NU Jombang. Ia merasa terbantu oleh pemateri terkait tips-tips membuat berita yang bagus dan benar.

“Kita tadi baru tahu, ternyata buat berita itu mudah. Bahkan ngajinya kiai di pesantren juga bisa dibuatkan berita,” bebernya.

Dikatakan, dari hasil diklat para peserta sepakat untuk tidak menyalahkan keadaan dan lingkungan. Namun mulai berangkat untuk maju dari diri sendiri. Usai beranjak dari forum ini, peserta akan aktif menulis ucapan hikmah dari para guru dan kandungan kitab klasik dalam bentuk berita, sesuai kaidah jurnalistik.

“Semua peserta sangat antusias dan menyimak secara teliti setiap materi yang disampaikan. Terbukti tidak ada yang tidur dan main handphone atau ngobrol rame sesama peserta diklat. Saat diminta praktek menulis mereka pun rebutan setoran membuat berita,” pungkasnya. (Syarif Abdurahman/Muiz).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here