Buka Cakrawala Berpikir Santri, Pesantren Pecangaan Gelar Ngaji Literasi

0
109

Narasumber pertama, Sigit Aulia Firdaus menyampaikan materi “Santri Perawat Tradisi Literasi” dan narasumber kedua Faqih Mansur Hidayat memaparkan materi “Pemanfataan Teknologi untuk Dakwah Santri”.

Ketua Pengurus Cabang Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Jepara, Syaiful Mustaqim mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja LTNNU Jepara, LTNNU Goes To yang acaranya dikemas dengan ngaji literasi.

“Tujuan dari kegiatan ini untuk mengenalkan literasi kepada santri meskipun mereka sebenarnya sudah dekat dengan literasi,” katanya.

Khodimul Ma’had, Ahmad Zainal Muttaqin Al-Hafidz mengungkapkan, ngaji literasi itu sangat baik diikuti oleh santri, karena selain mengkaji ilmu salaf, santri juga harus dibuka cakrawala berpikir. “Agar tidak gagap dalam merespon zaman atau ‘arifun biz zamanihi serta mengasah kepekaan terhadap permasalahan umat,” ungkap Gus Zen.

Dalam kesempatan itu Sigit Aulia Firdaus menyatakan arti dari literasi tidak hanya sekadar membaca dan menulis tetapi ditambah dengan pemaknaan yang mendalam. Kepada santri anggota Divisi Permediaan LTNNU Jepara itu mengungkap data indek membaca masyarakat Indonesia.

Di tahun 2011 dari 1000 orang yang serius membaca buku hanya di angka 1 yang tergolong serius dengan prosentase 000,1. Sedangkan di tahun 2016 Indonesia berada di peringkat 61 dari 62 negara. “Sehingga dari keprihatinan itu, Gus Sholahudin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang menyuarakan gerakan literasi santri,” paparnya.

Dalam rilis yang diterima NU Online, Ahad (12/5) Faqih Mansur Hidayat, narasumber yang kedua menambahkan, para santri sudah dekat dengan banyak medsos. Sebelum menggunakan medsos alangkah lebih baiknya sisi positif dan negatifnya perlu diketahui santri.

Di samping itu, Faqih yang juga anggota Divisi Permediaan LTNNU Jepara mengajak santri agar membuat konten yang menyejukkan. Pihaknya menyebutkan santri-santri di Jawa Timur banyak yang membuat konten dari yang sumbernya dari kitab-kitab salaf. “Sehingga konten yang kita (NU) buat memberikan kesejukan kepada yang lain dan bukan menyerang,” pungkasnya.

Kegiatan yang berlangsung 2 jam dalam rangka memperingati Haul KH Mahfudz Asymawi ke-18 itu semakin menarik karena pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan santri putra dan putri baik secara langsung maupun ditulis. (Red: Muiz).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here