‘Ustaz Miring Kampung Kami’, Karya Literasi LTNNU Lampung

0
146

Bandarlampung, NU Online
Di penghujung Ramadhan 1440 H, keluarga besar Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama Lampung masa khidmat 2018-2023 membuat sebuah karya literasi perdananya dalam bentuk buku Cerita Pendek (Cerpen) dengan judul Ustaz Miring Kampung Kami (kumpulan cerpen).

Sekretaris PW LTN NU Lampung, Sunarto, melalui sambungan telephone, Selasa (28/5) malam mengatakan, buku tersebut merupakan kumpulan cerpen-cerpen dari para juara dalam lomba menulis cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan oleh PW LTN NU Lampung beberapa waktu lalu.

“Semoga hadirnya buku ini dapat menjadi hidangan sekaligus penyejuk di tengah hiruk pikuk dan panasnya suhu politik di tanah air ini. Selain itu hadirnya buku ini juga sebagai bentuk komitmen dan eksistensi PWNU Lampung yang dalam hal ini ditangani Lembaga PW LTN NU Lampung dalam bidang literasi, juga khasanah keilmuan,” jelasnya.

Alumni Pesantren Al Hikmah Benda Sirampog Brebes Jawa Tengah ini menambahkan, ber-NU bukan cuma berpolitik saja namun bisa dalam bentuk hasil karya literasi. Hal ini penting diperhatikan oleh keluarga besar NU dalam rangka memperkaya dan mempertahankan khasanah tradisi NU.

“Buku ini adalah hasil para peserta cerpen, sebanyak 26 penulis, lomba beberapa waktu lalu digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) nulampung.or.id ke-4. Laman resmi PWNU Lampung yang dikelola oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama,” tutupnya.

Berikut nama-nama para penulis Cerpen dalam buku Ustaz Miring Kampung Kami (kumpulan cerpen) tahun 2019;

  1. Adam Yudhistira (Lampung): “Sepatah Kata yang Hilang Dilahap Api”
  2. Riqqi Ramadhan (Sumenep, Jawa Timur): “Sandal Keramat Kiai Khidir”
  3. Azri Zakikiyah (Pasuruan, Jawa Timur): “Gus Walid”
  4. Rizki Andika (Karawang, Jawa Barat): “Pak Serdam”
  5. Agus Kurniawan (Bandar Lampung): “Ustad Miring Kampung Kami”
  6. Rofoki Asral (Sleman, Yogyakarta): “Ra’”.
  7. Agus Salim (Sumenep, Madura): “Kanan Mati karena tidak Mau Naik Perahu”.
  8. Ainul Mardiyah (Aceh): “Pasai Sudah, Menasah”.
  9. Aksan Taqwein (Tangerang): “Doa Ali Sahab”.
  10. Alfian Dippahaten (BTN Wesabbe, Makasar): “Mencintai Pembunuh”.
  11. Annas Solahudin (Bojonegoro, Jawa Timur): “Sumur Tua dan Danau Kematian”.
  12. Azwar (Tangerang Selatan): “Seorang Laki-laki dan Perempuan dari Masa Lalu”.
  13. Dewi Purwaningrum (Ponorogo, Jawa Timur): “3 to 30”.
  14. Erwin Setia (Bekasi) “Kau Pergi ke Sebuah Tempat yang Tak Seorang pun Perlu Tahu”.
  15. Faiz Aditya Akhyar (Banyumas, Jawa Tengah) “Kopiah Kiai Dullah”.
  16. Fajar Mesaz (Mesuji, Lampung) “Barangkali Dia Bukan Pelacur”.
  17. Arif Budiman (Kudus, Jawa Tengah) “Kuda Putih di Ritus Kenabian”.
  18. Marlia Alvionita (Lampung Tengah, Lampung) “Lonceng Perdamaian”.
  19. Novi Giyanti (Bandar Lampung) “Tetesan Embun”.
  20. Nurmala Arfany Arista (Bandung, Jawa Barat) “Celah Gelap”.
  21. Royan Julian (Pamekasan, Madura) “Tiga Kemarau Syekh Rabb”.
  22. Saifudin (Guluk-Guluk, Madura) “Lubang Kecil Persegi Empat”.
  23. Siti Rahayu Fadilah (Bandar Lampung) “Setitik Cahaya dalam Surau”.
  24. Theopilus Yudhi (Karanganyar, Jawa Tengah) “Gus Khomarudin”.
  25. Ulil Amri (Pesawaran, Lampung) “Burung Bondol dan Seorang Teman Kecil”.
  26. Yunita (Jakarta) “Hikayat Syekh Jalaludin dan Demang Tunggul Itam”.

Yang berminat untuk medapatkannya dapat menghubungi Sunarto di nomor: 085742008537.
(Red : Akhmad Syarief Kurniawan/Muhammad Faizin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here