Warek IV UIN SGD Bandung Berpartisipasi Aktif dalam Kegiatan Silaturrahim Ibu Nyai Nusantara Se-Jawa Barat

0
15

Gelaran Silaturahim Ibu Nyai Nusantara se-Jawa Barat (24/11/2019) bertempat di Pesantren Buntet Cirebon dengan mengambil tema “Meneguhkan Bhakti Bu Nyai untuk Mewujudkan Keadilan dan Perdamaian di Jawa Barat.”Sedangkan tujuan dalam kegiatan adalah pertama sebagai sarana silaturrahim antar Bu Nyai se-Jawa Barat, Kedua, merumuskan strategi dalam meneguhkan peran dan esksitensi Bu Nyai dalam merespon perkembangan sosial keagamaan di Jawa Barat dan Ketiga merancang rencana tindak lanjut untuk merespon aneka problematika terkini masyarakat dan bangsa, terutama di Jawa Barat. Peserta yang hadir dalam acara tersebut adalah Pimpinan Wilayah Bidang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Jawa Barat dan Pimpinan Cabang Rabithat Ma’ahid Islamiyah se-Jawa Barat, para Bu Nyai Pengasuh pondok pesantren se-Jawa Barat dan para Bu Nyai Pengasuh Jam’iyyah Nahdlatul Ulama se-Jawa Barat.

Dalam Islam sendiri, perempuan memiliki peran yang sangat penting, apalagi jika ditempatkan perannya sebagai Ibu, al-ummu madrasatul ula, Ibu sebagai maadrasah pertama, artinya Ibu memiliki peran utama dan sangat penting dalam pendidikan anak, lebih luas lagi, perempuan sangat penting dalam mendidik generasi, mendidik bangsa. Indonesia memiliki pesantren, sebagai lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang telah diakui peran dan eksistensinya, yang kesemuanya tidak akan lepas dari peran perempuan, yaitu peran Bu Nyai. Sebagai pendidik bangsa, Bu Nyai memiliki peran sebagai pusat pengkaderan intelektual muslim (center of excellence), pencetak sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif (human resources), dan kemampuan untuk melakukan pemberdayaan pada masyarakat (agent of development), serta pemilik kekuatan dalam melakukan proses perubahan sosial (social change).

Seksi Acara Silaturrahim Ibu Nyai Nusantara Dr. Eva Nur Arovah menyatakan bahwa “ Sebenarnya pada 2017, di Cirebon dilaksanakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), yang merupakan perhelatan terbesar baik di Indonesia ataupun internasional yang menggaungkan peran dan eksistensi Bu Nyai, dari mulai peran-peran keagamaan, sosial, ekonomi, dan politik. Kongres ini menjadi ruang perjumpaan para Bu Nyai di Indonesia untuk saling berbagi pengalaman mengelola santri, jama’ah, juga melakukan gerakan-gerakan sosial-keagamaan di lingkungannya.”

Pesantren dijadikan tempat acara silaturrahim Ibu Nyai Nusantara agar semua yang hadir mendapat keberkahan Pesantren yang sudah berjasa membangun bangsa dan fondasi mental anak bangsa dalam setiap jiwa jaman. “Alhamdulillah acara berjalan lancar semua yang kita undang sedia hadir, semoga ke depan lebih baik.”Ungkap Dr. Eva Nur Arovah Penuh Semangat.

Peran Bu Nyai Nusantara dalam menghadirkan dan memperjuangkan keadilan dan kebangsaan di lingkungannya tentu tidak dapat diragukan lagi, mereka mengelola pesantren secara internal, pemberdayaan ekonomi kepada para pengurus pesantren, alumni pesantren, dan jamaahnya, dan secara terus menerus melakukan pendidikan terkait islam moderat, islam rahmatan lil’alamin tanpa kenal waktu dan energi. Banyak masyarakat datang ke Bu Nyai untuk sekedar bercerita keluh kesah problem keseharian hingga problem kenegaraan, semua diterima dengan semangat mengayomi dan memotivasi.

Sayangnya, bakti Bu Nyai belum mendapatkan pengakuan yang utuh dari masyarakat, apalagi publikasi peran-peran Bu Nyai, masih sangat sedikit. Pertemuan-pertemuan publik, publikasi peran-peran Bu Nyai di Pesantren dan masyarakat perlu terus digaungkan, agar masyarakat memiliki kesadaran bahwa menjadi perempuan dan terutama berkhidmat dalam nahdlatul ulama, bukan menjadi hambatan dalam mengejawantahkan amar ma’ruf nahi munkar di masyakarat. Jusrru dengan semangat persaudarian yang kental antar Bu Nyai dapat memperkuat dan memperkokoh gerakan sosial-keagamaan di masyarakat. Dari situlah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Barat melalui Bidang Pemberdayaan Pesantren Putri, mengadakan Silaturrahim Daerah (Silatda) Bu Nyai se-Jawa Barat.

Gelaran acara diawali dengan Pembacaan ayat suci al-Quran dan sholawat . Menyanyinyan lagu Indonesia Raya dan Yalalwathon. Kemudian Drama Kolosal “Kiai Abbas bin Abdul Jamil Buntet Pesantren” oleh Santri Buntet Pesantren. Acara dilanjut dengan Focused Group Discussion (FGD) salah satu pembicaranya adalah Prof Dr.Hj. Ulfiah, M.Si (Wakil Rektor IV UIN Sunan Gunung Djati Bandung). Dalam kesempatan tersebut Warek IV UIN SGD Bandung didaulat menjadi pembicara dalam Focused Group Discussion (FGD) Dengan topik bahasan“Penguatan Kapasitas Muharrik Perempuan Nahdlatul Ulama (Sosial, Politik, dan Budaya).”

Dalam pemaparannya Prof. Ulfiah menyatakan bahwa “Perempuan yang mandiri bukan hanya dikarenakan mereka tidak memiliki suami tetapi juga karena rasa kasih sayang terhadap suaminya yang besar, sehingga mereka ingin membantu suaminya. Rasa kasih sayang yang ada dalam diri mereka merupakan motivasi yang amat besar yang dapat mendorong mereka untuk saling tolong-menolong antar sesama. Demikianlah peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW, yang dapat memotivasi perempuan ranah juang generasi kekinian dalam beraktifitas. Tujuan aktivitas tersebut adalah untuk menunjukkan ekistensi perempuan NU dalam wilayah publik dan memanfaatkan kesempatan yang ada.”

Prof. Ulfiah menambahkan “Persoalan mendasar gerakan perempuan dalam ranah ke-NU-an adalah nasionalitas sekaligus nasionalisme NU yang meniscayakan publik menjadi bagian penting dari proses maksimalisasi peran perempuan NU secara struktural dalam seluruh dimensi kehidupan. Tidak bisa dibiarkan, para generasi mutakhir melenggang sendiri memasuki semak belukar peradaban serta kebudayaan secara soliter.

Tentu dengan catatan, bahwa institusi yang mewadahi perempuan NU bukanlah semacam lapangan sepak-bola yang mampu mengakomodasi seluruh perhelatan yang berlangsung di luar dirinya. Karena itu, spirit idealitas dalam kongres ibu nyai nusantara meniscayakan hak daulat perempuan NU, dan tentu saja hasilan dari acara ini dapat menjadi bunga-rampai sekaligus mata-rantai yang akan merangkul publik ke dalam pelukannya. Jika tidak, ada satu fase yang akan menjadikan perempuan NU berada dalam garis finish lost generations.



”Dari situlah nahdiyin bisa melihat, Nubuah Gerakan Perempuan NU menjadi relevans. Selebihnya, kita akan merayakannya dalam forum ibu Nyai Nusantara yang sungguh dahsyat ini.” Ungkap Prof.Ulfiah. Gelaran Silaturrahim Bu Nyai Nusantara berjalan dengan lancar, acara juga dihadiri sejumlah pejabat pusat dan daerah. (Yan)

Sumber:
https://ltnnujabar.or.id/warek-iv-uin-sgd-bandung-berpartisipasi-aktif-dalam-kegiatan-silaturrahim-ibu-nyai-nusantara-se-jawa-barat/5/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here