Gerakan Kembali Kepada Ulama

0
18

Oleh : Mualif Masykur S.Kom.I
Wakil Ketua Aswaja Center NU Jabar

Akhir- akhir ini banyak kecenderungan para ustadz yang mempersulit manusia dalam menjalankan ritual beragama. Sedikit-sedikit menvonis sesat, bid’ah, haram dan vonis – vonis lain yang terasa tidak ada kelonggaran dalam beragama.
Padahal agama begitu mudah untuk di jalankan “ان الدين يسر”

Sesungguhnya agama itu mudah, Syareat tidak pernah memaksa seseorang untuk menjalankan sesuatu di luar batas kemanusiaan nya.
.”لايكلف الله نفسا الا وسعها”

Seseorang yang tidak mampu membaca Al- Fatihah dalam shalat, boleh membaca surat yang dia hapal di dalam Al -Qur’an selain Al -Fatihah. jika tidak mampu, boleh membaca dzikir yang dia mampu, dan jika lafadz dzikir pun dia tidak bisa, boleh hanya diam dalam shalatnya tanpa membaca apapun.

Shadaqoh pun tidak harus dengan harta. tasbih, tahmid, takbir semua bernilai shadaqoh, bahkan hanya dengan tersenyum kita sudah mendapat pahala shadaqoh. Demikian pula hukum-hukum taklifi lain nya, selalu ada alternatif yang dimungkinkan bisa di kerjakan oleh seorang mukallaf. Islam bukanlah agama yang menegangkan, sedikit-sedikit ngajak perang, sedikit-sedikit menuduh kafir, sesat, bid’ah dan musyrik.

Cerita salah seorang sahabat yang mengejar ontanya yang lepas saat mau menjalankan shalat jama’ah, sehingga saat dirinya menemukan ontanya justru sahabat ini digunjing oleh para jama’ah lain karena sahabat itu dianggap lebih mementingkan urusan dunia. Sahabat inipun mengadu di seraya menangis dan berkata ” Ya Allah, di zaman Nabi masih ada, perkara yang demikian ini (mengejar onta dulu baru ikut shalat jama’ah) tidak apa-apa, kenapa kok sekarang justru dipersoalkan..??.”

Di sini menunjukkan bahwa pada asal nya menjalankan agama itu tidak perlu terlalu tegang. Sikap yang demikian ini agaknya mulai surut di zaman yang banyak di penuhi tokoh- tokoh agama instant hasil produk dunia maya yang makin menggurita saat ini.

Dengan ringan mengeluarkan hukum-hukum syare’at tanpa melihat konteks dan klasifikasi yang proporsional, sinetron haram, catur haram, maulid bid’ah, tahlilan bid’ah yang memvonis pelakunya masuk neraka dan hukum-hukum serampangan lainnya. Padahal kalau kita merujuk pada literasi yang sangat luas, dari berbagai khazanah ilmu klasik, tidak semudah itu memonopoli satu hukum untuk sebuah kasus tertentu. Dalam masalah catur misal nya, mengambil dari hukum asal dari usul syafi’iyyah berpegang pada kaidah “الاصل فى الشىء الاباحة”, tentu harus ada sesuatu di luar perkara asal tersebut yang menjadikan berubah hukum sebuah perkara itu. Jika memang permainan tersebut bisa menyebabkan lalai terhadap kewajiban sebagai hamba, tentu bisa menjadi haram. Jangankan permainan catur, bermain handphone kalau bisa menyebabkan lalai waktu juga berubah menjadi haram hukumnya.

Oleh karena itu, standart terbaik untuk menyikapi fenomena kebingungan umat terhadap agama saat ini adalah harus ada gerakan kembali pada pendidikan klasik di bawah bimbingan para kyai, yang notabene sebagai pewaris ilmu Nabi yang telah diberi lisensi langsung oleh Allah SWT, boleh lah kita menengok dunia maya dalam mengambil literatur syare’at, tapi ala kadar nya saja..selebihnya tanyakan langsung kepada kyai dalam majlis-majlis atau pesantren yang tradisi moral, akhlaq dan keilmuan sudah tidak di ragukan lagi eksistensinya.

Wallahu A’lam

Sumber:
https://aswajanucenterjabar.com/2019/11/26/gerakan-kembali-kepada-ulama/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here